Sabtu, 22 Desember 2012

"PERBEDAAN ADALAH RAHMAT"


PERBEDAAN ADALAH RAHMAT; 

SECUIL PANDANGAN CAK NUN & CAK ANAM



L
ima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Selain itu ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Bersama Grup Musik Kiai Kanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu. Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuatrumah kontrakannya, di Bugisan, Yogyakarta. Beberapa kota di Jawa pernah mereka datangi, untuk satu dua kali pertunjukan. Selain manggung, ia juga menjasjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. "Itu hanya be baik sudah berdakwah," katanya. 


Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama Istrinya Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi dan kelompok musik Kiai Kanjeng di taman budaya, maya itu sejak akhir 1970-an, bekerja sama dengan Teater Dinasti - yang berpangkalan di ntuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal," ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. "Ada apa dengan pluralisme?" katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. "Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar," ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua," tutur budayawan intelektual itu.

Terjemahan: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". [QS. al-Hujuraat [49]:13].

Translation: "O mankind! We created you from a single (pair) of a male and a female, and made you into nations and tribes, that you may know each other (not that ye may despise (each other). Verily the most honoured of you in the sight of Allah is (he who is) the most righteous of you. And Allah has full knowledge and is well acquainted (with all things)". [QS. al-Hujuraat [49]:13].

Dus, kesimpulannya memang Tuhan menciptakan semua perbedaan itu dengan Sengaja, agar kita satu dengan yang lainnya saling mengenal, saling memahami, saling bisa menerima. Pada dasarnya memang perbedaan itu sudah diciptakan dari sananya. Jadi mengapa banyak orang yang ribut-ribut mengenai perbedaan?

Begitu Indah Tuhan menciptakan banyak hal mengenai perbedaan ini jika kita bisa memahami dan menerima apa yang Allah SWT ciptakan tersebut.

Lantas, apa yang bisa kita ambil pelajaran dari perbedaan ini. Menurut saya yang dapat diambil dari perbedaan tersebut antara lain adalah:
1.    Kita diharuskan untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.
2.    Kita harus bisa saling memahami dan saling mengerti satu dengan yang lainnya.
3.    Kita harus bisa menerima satu sama lain apa adanya.
4.  Ndak usah diambil pusing mengenai perbedaan tersebut karena memang udah dari sana adanya. Percuma kita ambil pusing juga.
5.    Apalagi memaksa-maksa perbedaan tersebut untuk menjadi persamaan.
6.    Diharapkan dengan adanya perbedaan tersebut kita dapat mensyukurinya karena kehidupan berjalan begitu seimbang.
7.  Tetaplah memperpegangi ayat tersebut di atas: “...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu...”.


Perbedaan bukanLah untuk diperdebatkan, Tapi
Untuk saling mengisi, melengkapi menjadi Harmoni.

Perbedaan adalah Keragaman yang tak perlu dikambing hitamkan.
Perbedaan adalah Harmoni dan Unity keindahan.
Perbedaan adalah Kerahmatan randomnya Tuhan.
Tugas kita adalah mentransformasikannya
Menuju Keberkahan, Barokah berKehidupan.

Langit dan Bumi itu SATU.
Jika semua bumi, dimana Langit ?
Jika semua langit, dimana Bumi ?
Kerana, pada hakikatnya Langit dan Bumi itu SATU.

Karena Surga itu, Ada di hati kita masing-masing. Namun,
Surga bukanlah semata puncak pencapaian tujuan kehidupan.
Kerana Masterpiece Tuhan sesungguhnya adalah Manusia.
Manusia lebih tinggi derajatnya daripada Surga.
Dan tak mumkin, manusia mengejar derajat kepada Yang
Lebih rendah darinya [Derajatnya sendiri yang Adiluhung/ Masterpiece Tuhan].

Semoga bermanfaat!
Hanya Allah yang MAHA MENGETAHUI. [A-MS; 23-12-2012].

0 komentar:

Dí lo que piensas...